ASA

ASA

Pada keangkuhan rasa yang pernah kita sebut itu cinta
kau ciptakan air mata bermuara lembah nestapa
dan bidadari-bidadari pun terlena dalam bahagia
mengharap sunyi yang pernah kau janjikan indahnya

Namun sepi ini tak pernah sunyi karena bisik selalu menggerayangi
lalu masihkah suci kelamin sang bidadari jika terlalu lama sendiri
terlalu lama menanti hingga linimasa pun tak mau peduli lagi
kini, esok, atau nanti … datang dan pergi tanpa mengetuk hati

Ah, engkau masih terlalu keras kepala meski darah tertumpah
bahkan rintih-rintih bedebah itu telah menggeliat seraya mendesah
tapi rindumu tetap terdiam tanpa empati yang kukira pernah kau pendam
nyatanya begitu kelam; kau tikam ruh keputusasaan ini dalam-dalam

Cacing di mayatku pun masih berharap pada busuknya kata-kata
yang kau muntahkan ketika sesandungkan lagu tentang asmara
pada riuh pemakaman paling tragedi di seluruh alam semesta
lima hasta di bawah tanah aku masih saja tertawa

Karena aku hanya ada di kepalamu
bisikkan hasrat seperti yang kau tahu
tetap saja kau lakukan tanpa ragu
meski harus menggantung lehermu

Vlad D. Anger
06082020